KALIANDA- Bukan hanya tokoh adat, masyarakat, mantan dewan, dan aktivis saja. Kini, Kepala Desa Kedaton Junaidi ikut menyatakan dukungan atas gagasan pembangunan jalan nasional dibuat dua jalur dan pemindahan tugu pahlawan Raden Intan berada di tengah jalan nasional dua jalur tersebut. “Jika gagasan itu dapat terwujud, kota Kalianda bukan lagi menjadi tempat lintasan saja, tapi Kota Kalianda akan banyak disinggahi tamu-tamu baik dari Lampung maupun luar Lampung,” sebut Kades Kedaton, Junaidi ke media ini.
Menurutnya, kota Kalianda khususnya di daerah simpang fajar ini merupakan wajahnya Kota Kalianda. Jadi, sudah saatnya tampilannya harus lebih menarik, elegan, dan modern. Saya yakin sekali, seluruh masyarakat akan berikan dukungan. Hanya saja, sebelum konsep pembangunan itu dilakukan, perlu lakukan rembuk semua elemen masyarakat dulu supaya tak terjadi kegaduhan. “Sebab, dalam konsep jalan nasional dua jalur ini, adanya rencana pemindahan dan perbesar tugu pahlawan Raden Intan. Kita tahu, Pahlawan Raden Intan itu milik kita bersama,” pungkas Kades Junaidi, Selasa (26/8).
Sebelumnya diberitakan, gagasan Kabid Bina Marga PUPR Lamsel Pak Hasan untuk buat tampilan wajah kota Kalianda lebih ekslusif, maju, dan modern makin menguat. Ini karena adanya suport yang dijelaskan tokoh masyarakat berstatus ASN Qorinirwan, yang diunggah di media sosial GWA, Rabu pagi (20/8).
Dalam penjelasannya, Qorinirwan menyebutkan perubahan fisik jalan nasional menjadi dua jalur merupakan langkah maju. “Namun, aspek anggaran dan penunjang lainnya perlu dihitung secara matang agar kedepan tidak jadi sebuah proyek mangkrak,” jelas Bang Qori.
Lebih jauh dirinya menyebutkan untuk merubah tugu/patung Pahlawan Raden Intan ditengah jalan nasional tidak perlu adanya izin sampai pusat. “Pemindahan/ pembuatan patung/tugu Pahlawan Raden Intan tidak ada larangan. Siapa pun bisa membuat patung/tugu pahlawan nasional, seperti tugu pahlawan lainnya Teuku Umar, Cut Nyak Din, dan Pattimura.
Tokoh masyarakat lainnya, Nivolin CH, SE,M.Si, mengatakan pemaparan, penjelasan, dan edukasi, yang lebih konstruktif ke masyarakat perlu dipahami secara utuh dan jangan diterima sepotong potong. “Kita semua tahu, dari zaman dulu secara umum Lamsel merupakan daerah yang miliki potensi wisata. “Potensi Wisata ini, perlu dilengkapi dengan sarana dan prasara penunjang lainnya,” sebut Nivolin, seraya berharap kedepan tampilan wajah kota Kalianda, sudah harus berubah lebih modern. (asof)