Kerjakan Kegiatan Swakelola Sekolah, Kepsek SMA Islam Kalianda Profesional, Bahan Material Tersusun Rapih, dan Pekerja Proyek Banyak Gunakan K3

119

KALIANDA- Meski pekerjaan dilakukan swakelola sekolah (panitia P2SP), namun pengerjaan kegiatan pembangunan di SMA Islam Kalianda, dikerjakan cukup profesional. Ini terlihat jelas dari hasil kegiatan dan cara pengerjaan proyek swakelola tersebut. Terpantau media ini, tumpukan batu, pasir, besi, semen, krikil, kayu kayu bekas, balok kayu tertata rapih, dan tidak acak acakan. Padahal, lokasi proyek sempit dan terbatas.

Bukan hanya itu, para pekerja terlihat disiplin mematuhi standar K3 (Kesehatan dan keselamatan kerja) seperti mengenakan rompi, sepatu bot, dan penutup kepala. Terlihat, hanya ada satu atau dua pekerja saja yang tidak dilengkapi K3. “Tiap hari, kita selalu awasi pekerjaannya. Itu makanya material bangunan disini dikumpulkan rapih ditempatnya masing masing, tidak berserakan. Apalagi lokasinya memang sempit, jadi harus pandai pandai mengatur bahan bangunan agar tetap tersusun rapih dan tidak berserakan,” jelas Kepsek SMA Islam Kalianda Uun Qomarun Nadjmi ketika ditemui sedang mengatur tumpukan bahan material bangunan di lokasi proyek, Kamis sore (28/8/2025).

Selain sisa material, lanjut Uun, kualitas pekerjaan juga jadi perhatian utama kita. “Lihat dan cek saja sendiri, struktur bangunan, cor-coran pondasi dan tiang penyangganya kokoh dan padat. Kami inginnya hasilnya sangat kuat, aman, dan bertahan sangat lama. Sebab, yang akan gunakannya bangunannya nanti manusia/anak didik kami, bukan ayam. Jadi, kualitasnya harus benar benar kita jaga,” katanya, ke media ini, sambil memperlihatkan secara langsung struktur bangunan tiang-tiang penyangga cor-coran di lokasi proyek.

Lebih jauh, pria yang tercatat juga sebagai anggota Devisi Hukum (bukan wartawan) di yayasan DPP KPK Tipikor itu, menjelaskan SMA Islam Kalianda merupakan salah satu sekolah lanjutan atas tertua di Kalianda, yakni berdiri pada tahun 1980 lalu. “Alhamdulillah, tiap tahunnya sekolah ini cukup banyak dapat murid. Tahun ini, kita dapat 176 siswa,” imbuhnya, seraya menyebutkan statusnya bukanlah ASN tapi hanya honor di Yayasan Sekolah Islam ini. “Dari dulu, saya ini hanya honor bukan ASN. Itulah sebabnya untuk menambah penghasilan, terkadang saya ikut-ikut jadi seorang advokat,” pungkasnya.

Di kesempatan itu, Kepsek SMA Islam ini berharap Kadis Pendidikan Provinsi Lampung Thomas Americo untuk kedepannya dapat lebih perhatikan lagi kesejahteraan para guru honor di Lampung ini. “Saya yakin sekali, Pak Thomas bisa lakukan perbaikan kesejahteraan guru berstatus honorer bukan ASN seperti saya ini. (asof)