Kilas Balik, Kasus Bayi Kembar Berlanjut, Pasien Kecewa Berat, Pindah ke Klinik Dokter Eni, Hingga Kini Masih Jadi Perbincangan Masyarakat

420

Rulli Ikam : “Dalam Waktu Dekat Akan Temui Direktur Minta Penjelasan Seluas luasnya”

LAMSEL- Dugaan kelalaian penanganan pasien RSBB, masih menjadi perbincangan masyarakat, khususnya warga Kalianda, Lampung Selatan. Satu diantaranya, Rulli warga Hara Banjarmanis Kalianda, Lamsel. Ketua LSM IKAM (Ikatan Kemuakhian Masyarakat Lamsel) ini mengatakan masalah itu sudah banyak diketahui masyarakat. “Mestinya, ada penjelasan yang seluas luasnya, agar masyarakart tidak menduga duga permasalahan itu apakah kesalahan prosedur penanganan pasien atau memang kelalaian dari pihak RSBB,” jelas Rulli, ddi kediamannya, Senin (25/12/2023).

Dirinya juga menyatakan dalam waktu dekat ini, akan meminta penjelasan langsung dari Direktur RSBB. Agar, lanjutnya, memiliki pemahaman yang sama terkait kasus tersebut.

Untuk diketahui, dihimpun dari berbagai media online, diantaranya dikutif melalui Lokus Online dikabarkan bahwa nasib pasien asal Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan, tak dapat kepastian saat dirujuk di RS Bob Bazar Kalianda yang ingin melahirkan bayi Kembar dalam kondisisi dinyatakan sudah meninggal, akan tetapi malah dilakukan induksi (merangsang Kontraksi Rahim) hingga bayi tak kunjung lahir. Minggu, (24/12/2023).

Menurut keterangan dari salah seorang pekerja sosial yakni Ketua DPC JPKP Kecamatan sidomulyo selaku pendamping pasien menuturkan, “Berawal bahwa pasien sudah melakukan USG disebuah klinik Siti Khodijah bertempat dikelurahan Way Urang Kecamatan Kalianda. Dari hasil USG tersebut dinyatakan bayi kembar yang didalam kandungan sudah meninggal, berusia 7 Bulan, selanjutkan dirujuk ke RS BB Kalianda untuk dilakukan operasi.” Ungkapnya.

“Sampainya di RSBB Kalianda pada Hari Jum’ at (22/12) ditangani langsung oleh pihak UGD dan dilakukan sunting perangsang dan Dokter yang menangani adalah Dr Puspita Sari. Setelah kami dikonfirmasi kenapa dilakukan Induksi, menurut keterang sidokter akan dilakukan lahir secara normal sehingga dilakukan induksi atau suntik perangsang.” jelasnya.

Chandra melanjutkan, Induksi dilakukan selama 6 Jam sekali sebanyak 5 kali akan tetapi tidak ada reaksi hingga malam, dimungkinkan karena sibayi sudah meninggal, sangat disayangkan sampai keesokan hari Sabtu,( 23/12) sipasien belum juga dilkukan penaganan secara serius atau dilakukan operasi, kamipun sudah mengkonfirmasi langsung ke dirut RSBB dan hanya mendapat jawaban bahwa harus disuntik perangsang dahulu.

Lagi – lagi terkesan pihak RSBB kalianda abai akan kesalamatan nyawa pasien. Dan akhirnya pihak keluarga pasien memutuskan untuk Out dari RSBB, merasa sangat kecewa atas pelayanan RSBB Kalianda yang terkesan menyepelekan nyawa pasien.

Sementara menurut keterangan dari keluaga pasien, Isal, selaku adik pasien, setelah dibawa keklinik milik Dr Eni dan dilakukan operasi, pasien bernama Marlina istri dari Khirulloh beralamatkan Desa Banjarmasin Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan, dikatakan bahwa pasien mengalami Inpeksi. Saat ini pada hari Sabtu malam sudah dilakukan operasi dan pengobatan.” Pungkasnya.

Berikut chatingan konfirmasi melalui pesan Whatsap antara Chandra dan Reny Indrayani Dirut RSBB Kalianda. (*/asof)